Ketika lenganku bergerak, ia selalu mengikuti apa yang kulakukan. Seperti saat ini, ketika aku tersenyum, ia membalas senyumanku. Kugenggamkan jari-jari tanganku dengan kuat.
Aku mengepal ke arah cermin, wanita itu mengikuti apa yang kulakukan. Hanya saja tangannya lebih halus dan putih dari tanganku. Bahkan kuku-kuku indahnya berbanding terbalik dengan punyaku yang tajam dan hitam. Rambutku yang terburai tidak teratur, berbeda sekali dengannya yang tertata rapi bahkan hitam tergerai indah. Aku tidak berani membandingkan tubuh dan wajahnya. Semua seperti langit dan bumi.
“Sialan!” aku mengutuk diri sendiri.
Apa yang kulihat bukanlah diriku lagi. Aku kini jelek, dengan bentuk tubuh tak beraturan. Tidak yakin dimana jantungku hinggap. Bahkan sobekan di punggung membuat tulang rusukku menyeruak.
Kakiku bengkok dan pincang. Sebagian masih lengkap dengan tulang dan daging, sebagian lagi hanya tersisa tulangnya saja. Telapak kaki kananku hilang, kini kuganti dengan tongkat kayu yang mulai lapuk. Jangan berpikir tentang keindahan tubuhku saat ini. Sangat kontras dengan wanita yang berdiri tegak di balik cermin.
“Tidak lama lagi aku akan kembali.” Aku mendengus kencang. Kusentuh cermin itu. Kedua tangan kami
saling bertautan. Aku bisa melihat pundaknya yang halus. Ia memakai pakaian yang sudah pasti membuat laki-laki terjerat oleh tubuhnya.
“Akan kulakukan semuanya untukmu!”
—
Jo, kucing kesayanganku, terkejut dengan
kehadiranku. Ia segera melompat kembali ke
meja. Dengan kepala tegak, ia melihat aku
yang
duduk di samping Adi. Kubiarkan mata itu
tak
terpejam.
Aku mengusap lembut leher Adi. Tidak ada
penolakan darinya, lebih tepat lagi ia telah
pasrah oleh tingkahku. Kubuka jaket yang
menutupi tubuhnya.
Aku mulai meraba dadanya yang masih
berdetak.
“Kamu baik sekali! Bersedia menjadi milikku
selamanya. Jangan khawatir, semuanya akan
berjalan cepat. Tidak ada rasa sakit. Hanya
ketenangan dan kenikmatan. Kamu pasti
suka!”
kataku lembut tepat di samping telinganya.
Tangan kananku segera bergerak dan meloncat
lepas dari pergelangannya. Ia merayap di
sekujur
tubuh Adi dari kepala hingga kaki. Aku
merasakan apa yang ada di dalam tubuh laki-
laki
ini.
Sesuai dengan keinginanku, semua berjalan
lancar. Sejenak kupandangi wajah polos itu.
Inikah wajah yang setiap saat bisa berubah.
Dari
polos tak berdosa menjadi siap memangsa.
“Aku tahu yang kamu inginkan. Namun
keberuntungan tidak bersamamu. Saatnya aku
menjadikan dirimu korban n*fsuku,”
Mendadak tubuh Adi bergetar. Tangan kiriku
sudah ada di lehernya. Ibu jari menusuk dan
darah segar mengalir di sela-sela kulit.
Kubiarkan darah itu mengalir hingga
membasahi
dadanya. Terlihat segar.
Aku tahu malam akan segera usai, jadi semua
kulakukan dengan cepat. Kudekatkan wajahku
kelehernya. Tubuh Adi semakin bergetar hebat.
Ia tidak berteriak ketika darah di tubuhnya
semakin berkurang. Hingga ia terkulai lemas.
Matanya menutup perlahan. Dengan nikmat
kuhirup wangi bekas gigitanku di lehernya.
Semua
berlangsung cepat. Kubersihkan sisa-sisa
darah
yang masih menempel di mulutku.
“Sekarang giliran kamu!” kataku kepada Jo.
Kucing itu melompat sigap dan melakukan apa
yang baru saja dilihatnya dan melakukan
persis
seperti diriku.
Ada jemari yang menggelitik tengkukku. Aku
segera menangkap jemari itu dan menyatukan
lagi di tangan kanan. Sesuatu berada di
genggaman tangan kananku. Aku mengerutkan
dahi. Sangat berbeda. Mungkin Adi ini masih
polos sehingga tidak seperti laki-laki lain.
“Sepertinya lebih lezat!” Aku berdecak dan
menelan ludah.
“Biar kusimpan buat besok malam. Sekarang
lebih
baik tidur. Cukup untuk hari ini! Ayo Jo! Besok
diteruskan lagi,” aku berseru kepada Jo yang
masih asyik dengan Adi.
Jo melompat ke pangkuanku. Aku segera
menggendongnya.
—
“Jadi siapa tadi namamu, aku lupa?” tanya
Gio.
Ia merasa pernah mengenalnya tapi kapan
dan
dimana. Ia tidak ingat apakah benar
mengenalnya atau hanya sekedar khayalan
saja.
“Namaku Jehan Saraswati. Panggil saja
Jehan!”
kata wanita itu.
Gio tidak menampik kecantikan Jehan.
Sungguh
sempurna. Bahkan lebih dari sekadar
bidadari.
Perlahan ia mendekatkan duduknya agar bisa
mencium aroma parfum khas yang keluar dari
tubuh Jehan.
“Kamu berlibur disini? Yang jelas kamu bukan
rombongan dari kampus kami. Karena aku
baru
pertama kali melihatmu,” ucap Gio dengan
nada
meyakinkan.
Jehan tersenyum. Ia terbiasa oleh tingkah
laki-
laki ketika berhadapan dengannya.
“Aku menginap disana, itu milik pamanku,”
kata
Jehan sambil menunjuk sebuah bangunan di
atas
bukit kecil.
Gio terperajat ketika mengalihkan pandangan
ke
arah yang ditunjuk Jehan. Ia tidak melihat
apapun sedari kemarin di bukit sana. Dan kini
tiba-tiba sebuah vila megah berdiri di atas
bukit
itu.
“Aneh kenapa aku gak liat, ada vila disana.
Kemarin sempat jalan-jalan lewat bukit itu,”
desah Gio.
Namun pikiran itu segera disingkirkannya. Ia
merasa mungkin penglihatannya terganggu
atau
ia kurang teliti memperhatikan sekitar.
“Kamu sendiri disana?” tanyanya lagi kepada
Jehan.
Udara dingin pegunungan menambah sesuatu
yang
lain dipikiran Gio. Ia sadar wanita secantik
Jehan
akan menjadi rebutan laki-laki dimanapun
dia
berada. Tetapi tidak untuk sekarang, hanya
ada
Gioseorang. Jadi sebuah kesempatan
terpampang
di depan mata.
“Ya, aku sendiri! Ayahku pulang pagi ini
karena
urusan kantor. Sedangkan liburanku masih
panjang, jadi aku menikmati kesendirian
disana,”
jawab Jehan sambil tersenyum lebar.
“Oh begitu!” Gio menanggapi ucapan itu
dengan
penuh maksud.
“Eh udah dulu ya! Aku harus kembali! Gak
enak
ditinggal lama-lama!” sergah Jehan
membuyarkan lamunan sejenak Gio yang
belum
tuntas.
“Silahkan, senang bisa berkenalan denganmu!”
sahut Gio dengan senyuman lebar.
Jehan segera meninggalkan Gio yang masih
terpaku oleh langkah kaki wanita itu.
Pandangan
matanya mengekor setiap tubuh Jehan yang
semakin menjauh. Ia terus melihatnya hingga
di
ujung jalan tepat di samping vilanya.
Tidak ada yang aneh disana, hingga sebuah
angin
tiba-tiba mendesak tubuh Gio untuk
berlindung.
Gio segera berdiri di balik pohon besar. Angin
itu
terus berhembus dan semakin besar. Dahan
dan
daun-daun pohon itu beterbangan.
Gio membungkukkan badan. Ia berpindah di
sisi
lain pohon agar tidak terkena secara langsung
terpaan angin itu.
“Auw,” teriaknya ketika sebuah ranting besar
menimpa punggungnya.
Angin itu telah berlalu. Gio melihat sekeliling.
Matanya terperajat dan seolah tidak percaya
pada apa yang baru saja terjadi.
Tidak ada bekas ranting maupun daun yang
jatuh
tertimpa angin. Bahkan pohon tempat dirinya
berlindung, ternyata lebih kecil dari
perkiraannya. Pohon itu tidak mampu
menutupi
tubuhnya jika terjadi angin kencang.
Gio mengedarkan pandangan matanya. Ia
masih
mengenal jalan tempat vila dimana
rombongannya
menginap. Namun ada yang aneh. Dimana vila
megah di bukit itu? Ia tidak melihatnya lagi.
Tidak ada vila yang baru saja ditunjuk oleh
wanita bernama Jehan.
Gio menatap kosong bukit itu. Matanya tidak
salah. Masih seperti ketika ia pertama kali
tiba
kemarin. Tidak ada bangunan apapun disana.
“Jehan,” mulutnya tergerak menyebut nama
itu.
—
Aku tersenyum melihat laki-laki yang bernama
Gio. Di atas sebuah pohon aku bisa melihat dia
dengan jelas. Aku tertarik olehnya. Namun
Adi
yang baru saja menjadi korbanku sudah
sangat
berlebih.
“Lebih baik aku tidak mengganggunya dulu!”
Kuhembuskan sebuah angin besar yang keluar
menerpa tubuh Gio. Terpaannya cukup untuk
menggoyahkan tubuh laki-laki itu. Aku melihat
dia berlindung di bawahku.
Dia tidak menyadari kehadiranku. Aku hanya
tersenyum. Sungguh lucu memandang
tingkahnya
yang sedang membungkuk seolah angin itu
ingin
menghamburkan tubuhnya.
Kuambil sebatang dahan yang lumayan besar
lalu
kujatuhkan tepat di punggungnya. Dia
terkejut
dan menatap ke atas pohon. Aku tersenyum
dan
membalas tatapannya. Mungkin dia tidak
melihatku di atas sini.
Kutinggalkan Gio yang masih penasaran oleh
kejadian angin yang baru saja menimpanya.
Aku
menatap ke vila di bukit itu. Sudah lama
tidak
berkunjung kesana. Berbeda dengan vilaku
yang
lusuh dan kotor. Vila itu sangat rapi dan
bersih.
Pamanku memang merawat vila itu dengan
baik.
“Terimakasih Gio!” Aku berkata lembut di
telinganya sebelum pergi menjauh.
Kujatuhkan sepucuk kertas untuk
memberitahu
keberadaan temannya, Adi.
—
Semua panik dan cemas oleh penemuan mayat
Adi di sebuah gubuk tua. Gio hanya tertegun,
tangannya meremas gemetar kertas yang telah
mempertemukan sahabatnya dalam kondisi
tak
bernyawa.
Polisi yang menyusuri tepat itu tidak melihat
sesuatu yang mencurigakan. Namun kematian
Adi
serasa aneh. Tubuhnya masih utuh padahal
telah
seminggu dia menghilang dan tidak ada bekas
luka apapun.
Semua tampak wajar dari luar, namun tidak
dengan bagian organ dalam tubuhnya.
Jantung
Adi tidak berada di tempatnya. Seolah ia
hanya
robot berbentuk manusia. Tidak ada darah
yang
membeku. Semua kosong.
Gio semakin takut oleh peristiwa ini. Dua hari
yang lalu tanpa sengaja dia melihat wanita
yang
mirip Jehan. Tepat di dalam rombongannya
sebelum beranjak meninggalkan daerah ini.
Ia membaca isi kertas itu untuk ketiga
kalinya.
“Lima puluh meter sebelum tikungan dari
vilamu,
ada sebuah gubuk tua. Sahabatmu ada
disana.
Aku tidak janji, dia masih bisa tersenyum.
Sebaiknya kamu segera kesana, sebelum
terlambat.
Dan jangan lupa, kalau aku selalu melihatmu.
Tersenyumlah ketika aku menemuimu. Aku
kesepian, mungkin aku akan membawamu ke
vila
megah yang pernah kutunjukkan padamu.
Tentu
saja, tidak sekarang. Karena aku masih
menikmati darah dan jantung segar dari
sahabatmu.”
Tangan Gio bergetar hebat. Kertas itu jatuh
terinjak oleh kerumunan orang yang
mengerubuti
penemuan mayat sahabatnya. Ia sadar
mengapa
jantung Adi tidak berada di tempat
semestinya.
Aku mengepal ke arah cermin, wanita itu mengikuti apa yang kulakukan. Hanya saja tangannya lebih halus dan putih dari tanganku. Bahkan kuku-kuku indahnya berbanding terbalik dengan punyaku yang tajam dan hitam. Rambutku yang terburai tidak teratur, berbeda sekali dengannya yang tertata rapi bahkan hitam tergerai indah. Aku tidak berani membandingkan tubuh dan wajahnya. Semua seperti langit dan bumi.
Aku yang keriput dengan cekungan mata besar dan hitam. Ditambah bola mata kemerahan dan hidung pesek. Berbeda sekali dengan kulit wajahnya yang halus. Mata sayu dengan bulu mata lentik, serta hidung mancungnya yang menggemaskan. Bibirnya yang tipis dan barisan gigi rapi nan menawan. Seakan menertawakanku yang bermulut sumbing dengan gigi tak beraturan serta sepasang taring di sudutnya.
“Sialan!” aku mengutuk diri sendiri.
Apa yang kulihat bukanlah diriku lagi. Aku kini jelek, dengan bentuk tubuh tak beraturan. Tidak yakin dimana jantungku hinggap. Bahkan sobekan di punggung membuat tulang rusukku menyeruak.
Kakiku bengkok dan pincang. Sebagian masih lengkap dengan tulang dan daging, sebagian lagi hanya tersisa tulangnya saja. Telapak kaki kananku hilang, kini kuganti dengan tongkat kayu yang mulai lapuk. Jangan berpikir tentang keindahan tubuhku saat ini. Sangat kontras dengan wanita yang berdiri tegak di balik cermin.
“Tidak lama lagi aku akan kembali.” Aku mendengus kencang. Kusentuh cermin itu. Kedua tangan kami
saling bertautan. Aku bisa melihat pundaknya yang halus. Ia memakai pakaian yang sudah pasti membuat laki-laki terjerat oleh tubuhnya.
Bahkan hanya dengan kerlingan mata, tidak ada yang bisa menolak ajakan nakalnya. Itulah yang tampak pada dirinya. Wanita idaman dan pujaan kaum laki-laki. Semua yang tampak padanya sangat sempurna untuk sekedar.menjadi.seorang wanita di bumi.
Ia adalah jelmaan bidadari dari langit. Itulah yang sering kudengar dari mulut-mulut kotor di tepi jalan. Aku tahu dia bukan wanita.murahan.seperti apa yang mereka pikirkan. Hanya saja, aku juga tidak bisa menampik, kalau dia telah berpredikat kotor. Bukan karena tingkah lakunya, namun sebuah jerat yang menimpa dirinya puluhan tahun silam. Kini aku yang jelek dan tidak dianggap oleh siapapun, tetapi aku akan menjadi dirinya. Aku akan membalaskan setiap kebencian yang terpancar dari matanya. Aku juga dipenuhi dendam, sama seperti dirinya. Aku kembali menyeringai. Kupandangi jemari hitam yang kini berdampingan dengan telapak halus miliknya di balik cermin. Aku ingin merasakan jemari lembut itu itu mengusap tubuhku. Sudah lama sekali sejak kejadian
yang membuatku harus hidup di antara dua dunia.
yang membuatku harus hidup di antara dua dunia.
“Aku ingin kembali cantik!”
Dia mengangguk untuk menunjukkan persetujuan terhadap apa yang akan kulakukan.
Dia mengangguk untuk menunjukkan persetujuan terhadap apa yang akan kulakukan.
“Lakukan apa yang kamu inginkan! Kamu akan
menjadi diriku. Menjadi Jehan, sang bidadari. Membuat iri para wanita karena laki-laki lebih memilihmu. Balaskan kebencian dan dendamku! Aku dan kamu adalah satu,”
menjadi diriku. Menjadi Jehan, sang bidadari. Membuat iri para wanita karena laki-laki lebih memilihmu. Balaskan kebencian dan dendamku! Aku dan kamu adalah satu,”
kata wanita itu dengan mata tajam. Kami saling beradu. Aku bisa melihat garis yang menghubungkan tatapanku dengan bola mata indahnya. Aku mengangguk dengan mantap. Sebuah persetujuan telah terjadi di antara kami.
“Kamu akan menjadi cantik kembali!”
Aku tidak peduli. Apapun yang terjadi, aku harus menjadi cantik dan akan kubuat semua laki- laki
merasakan dendamku. Aku menjulurkan lidah panjang yang basah dengan air liur. Kujilat tubuhnya dari balik cermin. Aku kembali mendengus. Tatapan mata penuh kebencian menyerangku. Aku tidak peduli dengan tingkahnya yang juga ikut bergerak seiring alur jilatan yang kubuat. Dis tertawa terbahak. Sebuah gelas pecah
akibat tawa kerasnya. Kuambil pecahan gelas itu. Kugoreskan tepat di pergelangan tangan secara perlahan. Tidak ada darah yang muncul disana. Hanya kulit terbuka penuh nanah yang terburai.
Aku tidak peduli. Apapun yang terjadi, aku harus menjadi cantik dan akan kubuat semua laki- laki
merasakan dendamku. Aku menjulurkan lidah panjang yang basah dengan air liur. Kujilat tubuhnya dari balik cermin. Aku kembali mendengus. Tatapan mata penuh kebencian menyerangku. Aku tidak peduli dengan tingkahnya yang juga ikut bergerak seiring alur jilatan yang kubuat. Dis tertawa terbahak. Sebuah gelas pecah
akibat tawa kerasnya. Kuambil pecahan gelas itu. Kugoreskan tepat di pergelangan tangan secara perlahan. Tidak ada darah yang muncul disana. Hanya kulit terbuka penuh nanah yang terburai.
Aku tersenyum getir. Kulempar kembali pecahan itu dan kali ini menimpa cermin besar itu. Kuambil tongkat hitam di belakangku, lalu diayunkan ke arah cermin. ‘Prang,’ Suara pecah yang keras timbul akibat hantamanku. Cermin itu pecah berkeping-keping. Jatuh ke lantai tanah. Kuambil serpihan paling besar. Kutatap wajah cantik itu yang diraut oleh goresan retak akibat hantamanku. Aku tersenyum, begitu juga dirinya. Beberapa saat kemudian, tidak ada lagi wajah cantik di balik pecahan cermin. Hanya bayangan mengerikan yang penuh luka. Semua terselimut oleh darah yang menetes. Bahkan di balik matanya, aliran darah mengalir lembut seolah seperti ar mata. Namun lebih kental dan tidak bening.
“Akan kulakukan semuanya untukmu!”
—
Jo, kucing kesayanganku, terkejut dengan
kehadiranku. Ia segera melompat kembali ke
meja. Dengan kepala tegak, ia melihat aku
yang
duduk di samping Adi. Kubiarkan mata itu
tak
terpejam.
Aku mengusap lembut leher Adi. Tidak ada
penolakan darinya, lebih tepat lagi ia telah
pasrah oleh tingkahku. Kubuka jaket yang
menutupi tubuhnya.
Aku mulai meraba dadanya yang masih
berdetak.
“Kamu baik sekali! Bersedia menjadi milikku
selamanya. Jangan khawatir, semuanya akan
berjalan cepat. Tidak ada rasa sakit. Hanya
ketenangan dan kenikmatan. Kamu pasti
suka!”
kataku lembut tepat di samping telinganya.
Tangan kananku segera bergerak dan meloncat
lepas dari pergelangannya. Ia merayap di
sekujur
tubuh Adi dari kepala hingga kaki. Aku
merasakan apa yang ada di dalam tubuh laki-
laki
ini.
Sesuai dengan keinginanku, semua berjalan
lancar. Sejenak kupandangi wajah polos itu.
Inikah wajah yang setiap saat bisa berubah.
Dari
polos tak berdosa menjadi siap memangsa.
“Aku tahu yang kamu inginkan. Namun
keberuntungan tidak bersamamu. Saatnya aku
menjadikan dirimu korban n*fsuku,”
Mendadak tubuh Adi bergetar. Tangan kiriku
sudah ada di lehernya. Ibu jari menusuk dan
darah segar mengalir di sela-sela kulit.
Kubiarkan darah itu mengalir hingga
membasahi
dadanya. Terlihat segar.
Aku tahu malam akan segera usai, jadi semua
kulakukan dengan cepat. Kudekatkan wajahku
kelehernya. Tubuh Adi semakin bergetar hebat.
Ia tidak berteriak ketika darah di tubuhnya
semakin berkurang. Hingga ia terkulai lemas.
Matanya menutup perlahan. Dengan nikmat
kuhirup wangi bekas gigitanku di lehernya.
Semua
berlangsung cepat. Kubersihkan sisa-sisa
darah
yang masih menempel di mulutku.
“Sekarang giliran kamu!” kataku kepada Jo.
Kucing itu melompat sigap dan melakukan apa
yang baru saja dilihatnya dan melakukan
persis
seperti diriku.
Ada jemari yang menggelitik tengkukku. Aku
segera menangkap jemari itu dan menyatukan
lagi di tangan kanan. Sesuatu berada di
genggaman tangan kananku. Aku mengerutkan
dahi. Sangat berbeda. Mungkin Adi ini masih
polos sehingga tidak seperti laki-laki lain.
“Sepertinya lebih lezat!” Aku berdecak dan
menelan ludah.
“Biar kusimpan buat besok malam. Sekarang
lebih
baik tidur. Cukup untuk hari ini! Ayo Jo! Besok
diteruskan lagi,” aku berseru kepada Jo yang
masih asyik dengan Adi.
Jo melompat ke pangkuanku. Aku segera
menggendongnya.
—
“Jadi siapa tadi namamu, aku lupa?” tanya
Gio.
Ia merasa pernah mengenalnya tapi kapan
dan
dimana. Ia tidak ingat apakah benar
mengenalnya atau hanya sekedar khayalan
saja.
“Namaku Jehan Saraswati. Panggil saja
Jehan!”
kata wanita itu.
Gio tidak menampik kecantikan Jehan.
Sungguh
sempurna. Bahkan lebih dari sekadar
bidadari.
Perlahan ia mendekatkan duduknya agar bisa
mencium aroma parfum khas yang keluar dari
tubuh Jehan.
“Kamu berlibur disini? Yang jelas kamu bukan
rombongan dari kampus kami. Karena aku
baru
pertama kali melihatmu,” ucap Gio dengan
nada
meyakinkan.
Jehan tersenyum. Ia terbiasa oleh tingkah
laki-
laki ketika berhadapan dengannya.
“Aku menginap disana, itu milik pamanku,”
kata
Jehan sambil menunjuk sebuah bangunan di
atas
bukit kecil.
Gio terperajat ketika mengalihkan pandangan
ke
arah yang ditunjuk Jehan. Ia tidak melihat
apapun sedari kemarin di bukit sana. Dan kini
tiba-tiba sebuah vila megah berdiri di atas
bukit
itu.
“Aneh kenapa aku gak liat, ada vila disana.
Kemarin sempat jalan-jalan lewat bukit itu,”
desah Gio.
Namun pikiran itu segera disingkirkannya. Ia
merasa mungkin penglihatannya terganggu
atau
ia kurang teliti memperhatikan sekitar.
“Kamu sendiri disana?” tanyanya lagi kepada
Jehan.
Udara dingin pegunungan menambah sesuatu
yang
lain dipikiran Gio. Ia sadar wanita secantik
Jehan
akan menjadi rebutan laki-laki dimanapun
dia
berada. Tetapi tidak untuk sekarang, hanya
ada
Gioseorang. Jadi sebuah kesempatan
terpampang
di depan mata.
“Ya, aku sendiri! Ayahku pulang pagi ini
karena
urusan kantor. Sedangkan liburanku masih
panjang, jadi aku menikmati kesendirian
disana,”
jawab Jehan sambil tersenyum lebar.
“Oh begitu!” Gio menanggapi ucapan itu
dengan
penuh maksud.
“Eh udah dulu ya! Aku harus kembali! Gak
enak
ditinggal lama-lama!” sergah Jehan
membuyarkan lamunan sejenak Gio yang
belum
tuntas.
“Silahkan, senang bisa berkenalan denganmu!”
sahut Gio dengan senyuman lebar.
Jehan segera meninggalkan Gio yang masih
terpaku oleh langkah kaki wanita itu.
Pandangan
matanya mengekor setiap tubuh Jehan yang
semakin menjauh. Ia terus melihatnya hingga
di
ujung jalan tepat di samping vilanya.
Tidak ada yang aneh disana, hingga sebuah
angin
tiba-tiba mendesak tubuh Gio untuk
berlindung.
Gio segera berdiri di balik pohon besar. Angin
itu
terus berhembus dan semakin besar. Dahan
dan
daun-daun pohon itu beterbangan.
Gio membungkukkan badan. Ia berpindah di
sisi
lain pohon agar tidak terkena secara langsung
terpaan angin itu.
“Auw,” teriaknya ketika sebuah ranting besar
menimpa punggungnya.
Angin itu telah berlalu. Gio melihat sekeliling.
Matanya terperajat dan seolah tidak percaya
pada apa yang baru saja terjadi.
Tidak ada bekas ranting maupun daun yang
jatuh
tertimpa angin. Bahkan pohon tempat dirinya
berlindung, ternyata lebih kecil dari
perkiraannya. Pohon itu tidak mampu
menutupi
tubuhnya jika terjadi angin kencang.
Gio mengedarkan pandangan matanya. Ia
masih
mengenal jalan tempat vila dimana
rombongannya
menginap. Namun ada yang aneh. Dimana vila
megah di bukit itu? Ia tidak melihatnya lagi.
Tidak ada vila yang baru saja ditunjuk oleh
wanita bernama Jehan.
Gio menatap kosong bukit itu. Matanya tidak
salah. Masih seperti ketika ia pertama kali
tiba
kemarin. Tidak ada bangunan apapun disana.
“Jehan,” mulutnya tergerak menyebut nama
itu.
—
Aku tersenyum melihat laki-laki yang bernama
Gio. Di atas sebuah pohon aku bisa melihat dia
dengan jelas. Aku tertarik olehnya. Namun
Adi
yang baru saja menjadi korbanku sudah
sangat
berlebih.
“Lebih baik aku tidak mengganggunya dulu!”
Kuhembuskan sebuah angin besar yang keluar
menerpa tubuh Gio. Terpaannya cukup untuk
menggoyahkan tubuh laki-laki itu. Aku melihat
dia berlindung di bawahku.
Dia tidak menyadari kehadiranku. Aku hanya
tersenyum. Sungguh lucu memandang
tingkahnya
yang sedang membungkuk seolah angin itu
ingin
menghamburkan tubuhnya.
Kuambil sebatang dahan yang lumayan besar
lalu
kujatuhkan tepat di punggungnya. Dia
terkejut
dan menatap ke atas pohon. Aku tersenyum
dan
membalas tatapannya. Mungkin dia tidak
melihatku di atas sini.
Kutinggalkan Gio yang masih penasaran oleh
kejadian angin yang baru saja menimpanya.
Aku
menatap ke vila di bukit itu. Sudah lama
tidak
berkunjung kesana. Berbeda dengan vilaku
yang
lusuh dan kotor. Vila itu sangat rapi dan
bersih.
Pamanku memang merawat vila itu dengan
baik.
“Terimakasih Gio!” Aku berkata lembut di
telinganya sebelum pergi menjauh.
Kujatuhkan sepucuk kertas untuk
memberitahu
keberadaan temannya, Adi.
—
Semua panik dan cemas oleh penemuan mayat
Adi di sebuah gubuk tua. Gio hanya tertegun,
tangannya meremas gemetar kertas yang telah
mempertemukan sahabatnya dalam kondisi
tak
bernyawa.
Polisi yang menyusuri tepat itu tidak melihat
sesuatu yang mencurigakan. Namun kematian
Adi
serasa aneh. Tubuhnya masih utuh padahal
telah
seminggu dia menghilang dan tidak ada bekas
luka apapun.
Semua tampak wajar dari luar, namun tidak
dengan bagian organ dalam tubuhnya.
Jantung
Adi tidak berada di tempatnya. Seolah ia
hanya
robot berbentuk manusia. Tidak ada darah
yang
membeku. Semua kosong.
Gio semakin takut oleh peristiwa ini. Dua hari
yang lalu tanpa sengaja dia melihat wanita
yang
mirip Jehan. Tepat di dalam rombongannya
sebelum beranjak meninggalkan daerah ini.
Ia membaca isi kertas itu untuk ketiga
kalinya.
“Lima puluh meter sebelum tikungan dari
vilamu,
ada sebuah gubuk tua. Sahabatmu ada
disana.
Aku tidak janji, dia masih bisa tersenyum.
Sebaiknya kamu segera kesana, sebelum
terlambat.
Dan jangan lupa, kalau aku selalu melihatmu.
Tersenyumlah ketika aku menemuimu. Aku
kesepian, mungkin aku akan membawamu ke
vila
megah yang pernah kutunjukkan padamu.
Tentu
saja, tidak sekarang. Karena aku masih
menikmati darah dan jantung segar dari
sahabatmu.”
Tangan Gio bergetar hebat. Kertas itu jatuh
terinjak oleh kerumunan orang yang
mengerubuti
penemuan mayat sahabatnya. Ia sadar
mengapa
jantung Adi tidak berada di tempat
semestinya.
0 comments: